Jurnalis Serat.id Praditya Wibi, mengalami intimidasi saat melakukan tugas jurnalistiknya. Video karya jurnalistiknya, secara paksa polisi memintanya menghapus video karya jurnalistiknya.
Hari itu, Praditya meliput aksi demonstrasi di depan pagar gedung DPRD Jateng, jalan Pahlawan Semarang. Saat itu dia bersama jurnalis Suara.com. Sekitar pukul 16.30 Wib, dia merekam tindakan polisi yang melakukan sikap represif terhadap salah satu massa aksi.
Saat mengambil gambar tersebut, polisi mengetahui aktivitasnya dan mendekatinya.
Polisi yang beberapa memakai pakaian preman itu, berjumlah kira-kira 15 orang. Mereka meneriaki kami agar tidak merekam. Setelah mendatangi mereka, polisi secara hampir bersamaan mengintimidasi kami dengan gertakan dan nada keras memaksa untuk menghapus gambar mereka.
Polisi tersebut tidak menjelaskan alasan mengapa kami tidak boleh merekam kejadian yang dilakukan polisi tersebut. Saat memaksa menghapus file, ada satu polisi mendorong bahu Praditya menggunakan bahunya dari belakang. Padahal saat itu dia sudah mengaku wartawan, dan menggunakan kartu pers. Salah satu polisi juga sempat memegang kartu pers saya tetapi tetap saja dipaksa menghapus file rekaman polisi memukul dan menendang salah satu demonstran.