Ikhwal pamer senjata ini bermula ketika empat wartawan, tiga media cetak, NTB POST, Lombok Post, Suara NTB dan satu wartawan media elektronik Radio Global mendatangi Sodikun, Rabu pagi. Setelah KepalaSub Bagian Pemberitaan Humas Pemprov NTB Muhammad Imran menginformasikan kalau Depo Pertamina Ampenan akan memberikan keterangan pers. Beberapa waktu lalu, media cetak ribut-ribut memberitakan soal bensin yang keruh. Banyak keluhan dari masyarakat atas itu. Selasa (17/6) lalu, NTB POST juga memberitakan soal dua SPBU yang diduga melakukan kecurangan, dengan mengurangi takaran. Di Lombok Timur diberitakan, para petani tembakau mulai memborong minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga. Minyak tanah itu diborong karena minyak omprongan belum sampai pada petani. Padahal, petani sudah harus mulai mengomprong. Persoalan inilah yang ingin dikonfirmasi wartawan pada pihak Pertamina. Namun keterangan pers memang tak ada. Sodikun sendiri berkali-kali memprotes pemberitaan berbagai media di NTB tentang Pertamina. Sayangnya protes yang dilontarkannya itu ia katakan tak untuk dikutip. Ia kemudian mengajak wartawan masuk ruang kerjanya. Ruang kerja yang cukup melegakan. Empat wartawan duduk di kursi tamu berwarna biru. Sementara Sodikun duduk di meja kerjanya dan, Sodikun Syahroni, yang mengancam mengancam sejumlah wartawan dengan sejnata api dan senjata tajam jenis celurit, saat hendak mengkonfirmasi sejumlah persoalan bbm di Mataram.