Pada Jumat pagi, 4 orang jurnalis Tribun News di Jambi ditugaskan meliput aksi demonstrasi di Gedung DPRD Jambi.
Setelah bertugas dua jurnalis pulang setelah massa aksi bubar sekitar pukul 20.00 WIB. Dua jurnalis lain kembali melanjutkan liputan setelah sekumpulan orang datang menyerbu Gedung DPRD di kota Jambi, setelah pukul 20.00 WIB.
Jurnalis melihat massa tersebut berbeda dengan massa aksi yang melakukan unjuk rasa pada pagi hari hingga pukul 20.00 WIB.
Melihat demonstrasi yang kian ricuh, dua jurnalis tersebut kemudian memantau dari gedung Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi yang berjarak sekitar 300 sampai 400 meter dari Gedung DPRD Jambi. Gedung ini dinilai cukup aman jika aksi demonstrasi mulai ricuh, karena mereka bisa memantau dari balik pagar Kejati.
Sekitar pukul 21.00 WIB keadaan semakin ricuh, dan dua jurnalis tersebut harus bersembunyi di Gedung Kejati. Kedua telepon selulernya tidak aktif.
Pimpinan redaksi Tribun Jambi kemudian berinisiatif datang dan mengevakuasi kedua jurnalis untuk diantar pulang bersama satu orang awak redaksi yang kemudian datang menyusul ke Kejati Jambi.
Pimpinan redaksi Tribun Jambi kemudian memarkir mobilnya di halaman Kejati Jambi, kemudian melakukan liputan bersama 7 wartawan lain hingga dini hari.
Sekitar pukul 01.30 WIB dini hari, aksi demonstrasi semakin ricuh diwarnai bentrokan polisi dan massa. Massa kemudian berhamburan, dan sebagian mendobrak dan memanjat pagar Kejati Jambi. Massa anarkis tersebut kemudian membakar 3 mobil yang terparkir di halaman Kejati, termasuk mobil operasional Tribun Jambi.
Massa yang mengendarai sepeda motor melempar bom molotov ke arah mobil tersebut. Pimpinan redaksi Tribun Jambi sempat mengalami shock mengetahui kondisi tersebut. Saat itu, dia juga harus berlari dan sembunyi di sekitar gedung Kejati untuk menghindari massa anarkis yang lalu lalang naik motor di area tersebut.