Aksi kekerasan yang dilakukan Rivai terjadi Minggu dinihari lalu, 13 September 2015. Rivai dan sejumlah anggota kepolisian dan TNI bersuka ria di sebuah tempat hiburan malam di Bone, Venom.
Rivai yang dalam keadaan mabuk tiba-tiba mengamuk. Tanpa sebab yang jelas dia berteriak-teriak meminta Disc Jockey (DJ) di tempat hiburan malam itu turun dari atas panggung. Namun, tidak digubris.
Mendapat informasi tentang peristiwa itu, enam wartawan yang biasa bertugas di Bone mendatangi Venom guna melakukan peliputan. Wartawan koran Radar Bone, Lukman, mencoba memotret suasana. Namun, dihadang oleh Rivai dan aparat polisi lainnya.
Lukman sempat mendengar suara botol pecah, sebelum keluar dari Venon, karena terus didorong oleh Rivai dan teman-temannya. “Meski saya sudah berada di halaman Venom, Rivai masih mengejar saya sambil mengancam, bisa mengerahkan orang untuk membunuh saya,” ujar Lukman, yang kemudian melaporkan peristiwa itu ke Polres Bone.
Wartawan lain yang mencoba melerai juga mendapat ancaman serupa. Mereka diusir dan dilarang meliput di dalam ruang Venom maupun di sekitar halaman tempat hiburan malam itu. Rivai sesumbar mengatakan dirinya tidak takut pada wartawan. Bahkan, kalau wartawan merasa keberatan atas sikapnya, dipersilahkan melaporkan ke atasannya Kepala Polres Bone. “Silahkan ke Kapolres, saya tidak takut.”
Hingga kemarin, Rivai masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik Satuan Profesi dan Pengamanan (Propam). Namun, wartawan tidak bisa memperoleh hasil pemeriksaan terhadap polisi arogan itu. Lukman juga menjalani pemeriksaan hampir tiga jam.
Adapun Kepala Bolres Bone, Ajun Komisaris Besar Juliar Nugroho, mengaku sedang berada di Makassar, bertemu dengan sejumlah wartawan senior. “Gak usah digede-gedein lagi, ya," ucapnya. Sikap Juliar berbeda dengan sebelumnya, yang mengatakan Rivai tidak saja dijatuhi sanksi disiplin dan kode etik, tapi juga diperoses secara pidana.