Advokasi | Data Kekerasan Tim Advokasi AJI Indonesia

Penculikan

Penculikan jurnalis dengan tujuan politik atau mendapatkan tebusan sering terjadi di dunia. Selama 31 tahun CPJ berdiri, lembaga ini mencatat beberapa kasus penculikan jurnalis terjadi di Kolombia, Filipina, Rusia, Iraq, Pakistan, Afganistas, Meksiko dan Somalia. Di Afganistan, setidaknya 20 jurnalis dan pekerja media diculik pemberontak atau kelompok kriminal pada kurun waktu 2007-2011. Dua di antaranya meninggal.

Langkah terbaik menghindari ini adalah melakukan pencegahan. Ketika melakukan tugas peliputan di area berbahaya, pastikan editor atau orang lokal yang dipercaya mengetahui kegiatan Anda. Siapkan rencana cadangan dilengkapi narahubung untuk editor atau keluarga ketika menyadari Anda hilang. Selain itu perlu mendiskusikan dalam kondisi Anda tidak bisa dikontak, sampai kapan waktu yang disepakati untuk mengambil kesimpulan bahwa Anda dalam kondisi bahaya.

Jika dalam situasi diculik, satu hal yang mungkin dilakukan pelaku adalah mencari informasi tentang jurnalis tersebut di internet. Semua data tentang pribadi jurnalis yang telah terpublikasi online akan dapat mereka peroleh, mulai dari tempat kerja, laporan yang telah dibuat, organisasi yang diikuti dll. Siapkan jika mereka bertanya tentang hal itu.

Perlatihan melakukan peliputan dalam lingkungan tidak aman termasuk pengetahun tentang teknik survival atau teknis mengatasi kondisi itu diperlukan. Membangun komunikasi dengan penculik sebuah upaya yang patut dilakukan untuk mengurangi kondisi yang membahayakan.

Upayakan menjelaskan dengan baik bahwa jurnalis adalah observer yang tidak menggunakan senjata. Tugas jurnalis adalah membuat cerita dari berbagai sisi. Lakukan dengan dengan baik dengan mengontrol emosi.

Jika korban penculikan adalah satu tim jurnalis, upayakan tetap menegosiasikan agar tidak terpisah. Yakinkan para penculik bahwa lebih efisien penjagaan dilakukan terhadap group dari pada perorangan. Antarjurnalis yang menjadi korban penculikan perlu memberi support moral antara satu dengan yang lain.

Jurnalis senior yang pernah melakukan peliputan di wilayah konflik Aceh mengatakan para pendamping kasus penculikan jurnalis perlu memahami faksi-faksi pada tubuh kelompok penculik dan membangun komunikasi dengan pimpinan tertinggi para penculik. Upayakan menegosiasikan agar korban penculikan berada dalam pengawasan pimpinan tertinggi penculik. Kondisi tersebut lebih aman untuk jurnalis.

Peluang melarikan diri bisa jadi muncul selama masa penculikan, tapi perlu diperhitungkan dengan cermat potensi kegagalan yang kemungkinann berujung fatal dari tindakan tersebut. Selama penculikan media dan keluarga perlu bekerja sama. Setelah dipastikan bahwa jurnalis tersebut telah diculik, koordinasi dengan wakil pemerintah perlu dilakukan, juga koordinasi dengan organisasi jurnalis di wilyah itu.

Koordinasi dengan aparat keamanan terkait pembebasan perlu dilakukan. Jika telah berhasil mencapai kesepakatan untuk pembebasan dengan pelaku penculikan, perlu berkoordinasi dengan aparat agar tidak melakukan operasi di area telah disepakati menjadi tempat pembebasan korban. Untuk menghindari kondisi yang membahayakan bagi korban.

Perlu berkomunikasikan dengan organisasi media/ jurnalis di tingkat global seperti CPJ, The International News Safety Institute yang memiliki Global Hostage Crisis Help Centre yang dapat merekomendasikan ahlli yang dapat membantu melepaskan sandera. The Dart Center for journalism and Trauma dapat memberikan pendampingan yang efektif terkait konseling untuk keluarga korban penculikan. Ujian terbesar menghadapi kasus ini adalah kesabaran dan emosi.

Beberapa negara punya kebijakan tidak memenuhi permintaan uang tebusan. Tapi ada juga negara yang membatu membayar tebusan untuk korban penculikan, seperti Prancis dan
Jepang. Keluarga dan editor bisa jadi dapat mempengaruhi atau tidak terkait semua keputusan yang diambil pemerintah untuk penanganan dan penyelamatan korban penculikan

Pada beberapa kasus pelaku penculikan meminta jurnalis untuk membuat pernyataan dukungan di video. Pada beberapa kasus ada jurnalis yang setuju, tapi ada juga yang menolak karena berkeyakinan menjaga independensi dapat menjadi posisi tawar. Keputusan mana yang diambil perlu mempertimbangkan kondisi saat penculikan itu.

ShareThis Copy and Paste