Advokasi | Data Kekerasan Tim Advokasi AJI Indonesia

Memahami situasi dan keamanan

Situasi lapangan serta kondisi keamannya harus betul-betul dipahami editor maupun jurnalis yang akan turun ke lapangan. Khusus untuk editor/ perusahaan media, hendaknya tidak menghukum atau menegur jurnalis yang menolak penugasan sebab alasan keamanan. Editor dan perusahaan media juga harus jujur menerangkan dukungan macam apa sajakah yang diberikan kepada jurnalis selama dan pasca peliputan. Dukungan yang dimaksud dapat berupa asuransi atau konseling psikologi.

Bebepa jurnalis senior yang pernah melakukan peliputan di wilayah konflik dan bencana alam di Indonesia mengatakan jurnalis yang mendapatkan tugas meliput bencana dan konflik perlu mendapat pendampingan psikologis dari perusahaan. Apalagi jika jurnalis berasal dari daerah setempat.

Rata-rata mereka menyarankan, perusahaan media perlu melakukan pergantian jurnalis setidaknya dalam kurun 5-7 hari setelah melakukan peliputan. Karena pontensi stress akibat
menghadapi tantangan dan melakukan peliputan secara konstan di area berbahaya rata-rata muncul dalam kurun waktu tersebut. Jika langkah tersebut tidak dilakukan, jurnalis yang mengalami stress berpotensi menghasilkan liputan yang bias.

Pemahaman mengenai situasi dan keamanan lokasi tujuan peliputan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Utamanya:

  • Mengidentifikasi kontak dan waktu serta alat komunikasi yang digunakan.
  • Mendapat gambaran tantangan di lapangan, termasuk masalah yang pernah timbul di daerah tersebut sebelumnya. Serta menyusun rencana untuk menghadapi risiko tersebut.
  • Berkonsultasi dengan beberapa pihak. Termasuk jurnalis yang sudah berpengalaman di daerah atau bidang peliputan tersebut, peneliti, NGO pers atau media.

Beberapa kondisi yang dapat dimasukkan sebagai risiko serius:

  • Tempat peliputan yang berbahaya, daerah konflik, termasuk lokasi peperangan di mana masih terdapat banyak ranjau, bom, dan serangan udara, serta liputan bencana.
  • Pengeboman teroris.
  • Penculikan, baik untuk alasan keuangan maupun politis.
  • Bahaya yang dapat disebabkan oleh kerumunan, termasuk kemungkinan pelecehan seksual, pencurian, gas air mata atau kekerasan lain.
  • Kecelakaan di jalan raya.
  • Melewati daerah perbatasan yang dimungkinkan dikuasai/diduduki oleh kelompok bersenjata.
  • Pengawasan secara fisik yang bertujuan untuk menculik atau mengidentifikasi sumber berita.
  • Pengawasan/mematai-matai secara elektronik yang bertujuan untuk mengambil informasi atau sumber berita.
  • Tingkat loyalitas dan terpercayanya sumber, supir, fixer, maupun saksi jurnalis.
  • Tindakan kriminal secara umum.
  • Risiko kesehatan.

Jurnalis dan perusahaan media harus memahami bahwa pada kondisi lapangan tertentu, misalnya suhu politik yang kian memanas atau bencana alam, dapat menjadi kian buruk. Sehingga, persiapan untuk mengatasi risiko sebaiknya juga termasuk memiliki rencana jelas di mana jurnalis akan tinggal atau mengungsi jika diperlukan.

ShareThis Copy and Paste