2020-10-08
Kota Jakarta Pusat
Thohirin, wartawan CNNIndonesia.com, menerima intimidasi dari aparat kepolisian saat meliput aksi unjuk rasa di Simpang Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (8/10) malam.

Kepalanya dipukul pakai tangan, satu sampai tiga kali saya lupa. hp saya dirampas, dibuka, diperiksa geleri, kemudian dibanting. id pers saya juga diambil lalu dibuang.

Kejadiannya bermula sekitar pukul 22.00 WIB, saat aparat mulai pukul mundur massa aksi yang sebelumnya menguasai simpang harmoni. aparat berkali-kali menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. melihat polisi yang maju dan menguasai simpang harmoni, ia ikut di belakang barikade polisi. tidak ada teman wartawan bersama saya ketika itu.

Ia merasa aman karena saya berada di belakang polisi. beberapa saat kemudian ia melihat aparat menangkap 3-5 aksi massa yang ricuh. mereka dipukuli. salah satunya sampai pingsan. ia melihat kejadian itu. polisi yang melihat dia langsung menghampiri. ia ditanya apakah mengambil gambar atau video. ia bilang tidak.

Mereka yang tidak percaya kemudian memaksanya mengeluarkan hp dan meminta dibukakan galeri. ia buka. di situ ada banyak foto aksi yang dia ambil. sebagian besar gambar yang diambil adalah gambar saat polisi membubarkan massa. selebihnya tidak ada lagi. termasuk kekerasan aparat, tidak ada. satu-satunya yang bikin mereka jengkel, setelah membuka hape, mereka melihat gambar saat aparat memiting massa aksi yang yang ditangkap.
Melihat gambar itu mereka marah. menuduhnya seenaknya bekerja sebagai wartawan. padahal tidak ada yang salah dari kerjanya.

setelah itu, hapenya diambil.diinterogasi, dimarahi. beberapa kali kepalanya dipukul. Ia pakai helm.
Setelah itu, salah satu di antara mereka mengancam akan membanting hape dia. "kamu percaya nggak hape kamu bisa saya banting," begitu kata dia. Ia bilang jangan, itu alat saya buat bekerja. terus di antara aparat yang lain menimpali untuk membanting hape dia. dan seketika hapenya dibanting. Ia pasrah dan tak sempat berpikir apa-apa lagi. hapenya ditinggal. Ia tidak kepikiran menjadikan itu barang bukti.

Pelaku

Pelaku Tidak dikenal
Polisi

Korban

Tohirin (Nama Samaran)
CNN Indonesia
Media Online