2019-12-18
Kab. Yahukimo
Kronologis kejadian
selamat pagi pada hari ini tanggal 19 Desember tahun 2019 saya akan menjelaskan Kronologis kejadian “kekerasan terhadap saya Piter Lokon wartawan Jubi pada tanggal 18 desember 2019 Kemarin”.

“Kejadian tanggal 18 Desember 2019 pada jam 12 siang berujung dengan kekerasan terhadap Wartawan dan perampasan alat peliputan Jurnalis Jubi,”

Pada tangga 18 Desember 209 Jam 10:00 Saya diundang oleh Humas Polres Yahukimo untuk meliput kegaiatan Penyerahan 1 buah rumah Idaman yang dibangun oleh BKO Brimob Sektor 06 Yahukimo kepada Masyarakat Papua, Keluarga Yoel Yalak.
Selesai Penyerahan ada makan bersama makanan Bakar Batu Khas Papua.
Sementara Makan bersama, Saya mendengar ada HT yang masuk kepada anggota Brimob yang saat itu sama-sama dan Pak Kapolres Yahukimo, AKBP Angling Guntoro dan Kepala Sektor 06 Kombespol Yuri, Kepala Suku Yahukimo Morume Busup.
Saya mendengar disamping saya ada oknum angggota Brimob yang memegang HT, ada laporan masuk bahwa Ruko Blak A ada terjadi keributan dan juga di Masjid Pemukiman, Saya tidak dengar baik apa sebab dan penyebabnya serta apa yang terjadi disana. Maka saya keluar jalan kaki lewat jalan SMA 1 Dekai ke Ruko Blok A. saya kebetulan tidak ada kendaraan dan saat itu. Bapak Kapolres dan Anggota Brimob mereka keluar dan menuju ke Polres.
Saya setelah tiba di diruko Blok A, ada orang banyak yang berdiri dan takut, panik dan juga disitu saya melihat asap dua motor yang dibakar sudah mulai berasap dari dua lokasi yang berbeda.
Saya tiba di Tempat kejadian pembakaran 1 Buah Motor di jalan Menuju Polres dan Pasar Baru di tenga jalan. Saya liput disitu dengan memotret foto kendaraan dan perempatan antara jalan pemukiman, jalan Sosial, Jalan Pasar Baru dan Polres disitu banyak masa yang berdiri dan kumpul disitu. Saya tidak mendekati mereka tapi saya ambil posisi jauh 50 meter dimana dekat motor dibakar.

Masa banyak yang kumpul di dekat Jalan ke pasar baru dan juga Jalan Sosial dan Jalan pemukiman saya tidak sampai di perempatan posisi saya sekitar 50 meter. Dari 50 meter saya lihat masa sementara kumpul-kumpul di perempatan kemudian saya dari jauh saat potret 1 kali untuk meliput.
Saya ambil gambar dari arah bakar motor dengan di belakang itu dan massa. Berselang sekitar 5 menit itu aparat kemanan dari Brigade Mobil (Brimob) dari arah jalan pemukiman satu Strada dengan senjata lengkap dan satu buah Mobil Avanza. Aparat datang sehingga Masyarakat mereka melarikan di ke jalan pasar baru dan ke jalan sosial.

“Aparat melakukan tembakan ke udara, masyarakat saat itu sudah lari ke hutan-hutan dekat jalan Sosial dan Jalan Pasar Baru. Kemudian 1 Strada dan Mobil Avanza kembali ke Polres dan di Polres anggota Brimob dan Polisi dari Polres Yahukimo sudah siaga, kemudian dari Polres Yahukimo ada dua strada, 1 Kijang (Belakang Kosong) dan Satu Buah Dalmas ke perempatan lengkap dengan senjata dan mereka tiba di perempatan dan melakukan penembakan ke udara serta menyebar dan mengejar masyarakat yang lari. turun disitu dan saya melakukan peliputan dengan japret atau memotret foto posisi yang sama dari tempat kebakaran Motor. Ketika saya memotret dari Posisi saya sekitar 50 Meter maka satu orang angggota Polisi minta saya untuk tidak mengambil foto atau video serta tidak mengeluarkan Kamera. “Hei ko stop ambil gambar. Ko hapus, hapus nare,” kata seorang Polisi. Saya sampaikan saya wartawan tapi, diminta agar tidak memotret maka saya sampaikan
“siap komandan saya tidak akan ambil gambar. Kamera saya sudah mati karena kehabisan baterai dan untuk HP saya isi di saku ya, tidak memotert,”.
Setelah itu saya dari belakang jalan ke arah Pasar baru, disitu ada satu orang Ambon dipukul oleh anggota Brimob lalu melakukan pengerojokan serta dipukul dengan popor Senjata dan di tendang dengan sepatu laras. “Dia disiksa berapa kali kemudian ada oknum polisi bilang bahwa dia orang ambon atau orang timur sehingga dibebaskan dan dimnta agar dia masuk ke dalam rumahnya.
Sementara dia masuk aparat melakukan pencarian pelaku pemukulan terhadap oknum Brimob itu sampai di sekitar rumah dan jalan serta aparat mereka menyebar.
“Saya berdiri di jalan tanpa memotret atau lakukan apapun saya hanya berdiri di pinggir jalan dekat kios, saya didatangi oknum Brimob dan menghampiri saya lalu lakukan pemukulan terhadap saya dengan Popor Senjata Besi bagian tulang rusuk. Saya kaget dan adu kenapa pukul saya, saya ini tidak tahu apa-apa, saya Wartawan tetapi dia mengatakan bahwa ko stop ambil gambar, ko hapus-ko hapus. Saya sampaikan bahwa saya sudah dibatasi jadi tidak ambil gambar tapi mereka kejar saya dan ada yang melepaskan sangkur ke tangam saya hingga tangan saya terluka. Ada juga yang melakukan upaya pukul saya dengan Popor senjata di Otak kecil saya tetapi saya berusaha menghindar, ada berapa kali saya dipukul di belakang saya, ada anggota Polisi Polres Yahukimo juga berusaha pukul saya dan ada juga yang berusaha tembak saya dengan Gas Air mata tapi saya berhasil diselamatkan oleh Humas Polres Yahukimo dan Beberapa orang Anggota Brimob dari Sumatera yang tadi siangnya sama-sama saat penyerahan Rumah Idaman. Sementara saya diantar oleh mereka pulang, ada beberapa anggota datang mengambil HP, Kamera Canon, Tas yang berisi pelengkapan bersama dompet yang berisi kartu dan uang.
Saya setelah pulang berusaha untuk melakukan pengobatan di di RSUD Dekai jam 13 siang tetapi tidak bisa karena sementara rawat anggota Brimob yang terluka sehingga saya kembali pulang dan tidak melakukan pengobatan. Sore jam 17:00 saya ke Polres untuk mengambil kamera tetapi saya disuruh pulang kembali kerumah dan disuruh saya datang ambil keesokan hari 19 Desember 2019 namun sampai saat ini belum dikembalikan.

Maka dengan demikian kejadian seperti ini jangan terus mengulang terhadap jurnalis khususnya di Papua ini kan negara hukum dan juga negara demokrasi, maka harus memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada wartawan untuk melakukan peliputan secara bebas tidak dibatasi atau intervensi pihak siapapun Dan saya merasa dibatasi. Kemudian saya merasa dirugikan karena saya dibatasi saat liput dan saya juga dipukul dengan popor senjata dan sangkur padahal saya sudah tunjukkan Kartu Pers dari wartawan Jubi dan kartu Wartawan dari Dewan Pers Wartawan Muda. saya sudah lengkap tanda pengenal tetapi tetap saja tidak dihormati.

jadi jangan lagi terulang seperti ini untuk kedepannya, harus memberikan kebebasan kepada wartawan dan jangan selalu dibatasi karena kami tidak melakukan kekerasan kepada siapapun tetapi kami melakukan tugas peliputan.
Harapan saya juga kepada anggota kepolisian maupun yang terlibat melakukan pemukulan terhadap saya kemudian ambil alat kamera saya alat-alat liputan, Kemudian dengan membatasi saya itu harus diberikan hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku di negara kesatuan republik Indonesia.
Anggota Polisis sebagai penegak hukum maka itu mereka harus menghormati hukum serta undang-undang tentang pers.
“Saya minta kepada Kapolri dan Kapolda Papua untuk anggota yang melakukan kekerasan terhadap saya wartawan harus diberikan hukuman yang berlaku di negara kesatuan republik Indonesia. Mereka harus diberikan hukuman dan sangsi yang seberat-beratnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka baik angggota Brimob dan juga oknum anggota Polisi dari Polres Yahukimo tersebut. Sekali lagi saya mohon Bapak Kapolda tindak pelaku kekerasan terhadap saya,”(*)

Pelaku

Pelaku Tidak dikenal
Polri
Polisi
Polri

Korban

Piter Lokon (Nama Samaran)
tabloid jubi
Media Online

Laporkan Kekerasan Terhadap Jurnalis Sebagai:

Anggota AJI Tamu

Pilih Data:

 
 

Berdasarkan Jenisnya:

Berdasarkan Pelaku:

Berdasarkan Kota: