2019-09-24
Kota Jakarta Pusat
Nibras Nada Nailufar, reporter Kompas.com

Kejadian bermula sekitar pukul 17.30 saat saya ingin kembali ke kantor. Dari Graha Jalapuspita, saya rencananya mau kembali ke kantor lewat Jalan Gerbang Pemuda (TVRI). Pas sampai di bawah flyover Ladokgi, suasana memanas. Polisi di atas flyover sudah siap menembak ke arah massa.

Setelah saya teriak saya wartawan, saya disuruh masuk ke JCC. Karena rupanya Jalan Gerbang Pemuda sudah penuh gas air mata.

Ternyata pusat komando polisi ada di JCC itu. Saya bertahan di situ sambil sesekali mendekat ke gerbang melihat bentrok massa dengan polisi.

Makin lama, sekitar pukul 19.00, polisi dan tentara kewalahan menghadapi massa. Mereka juga kena gas air mata. Di antara banyak polisi yang kembali ke dalam JCC dalam keadaan tumbang, saya lihat ada tiga orang yang digiring polisi.

Pertama, seorang pria yang mungkin usianya sudah di atas 30 tahun mengenakan kaos dan celana panjang. Tubuhnya sudah lunglai dan dipapah secara kasar oleh polisi. Saya merekam itu dari balik dinding kaca JCC. Tiba-tiba ada seorang pejabat polisi yang meminta saya berhenti merekam.

Saya bilang saya wartawan dan saya berhak. Polisi itu tak peduli dan marah ke saya. Saya teriaki balik kalau saya dilindungi UU Pers. Dia tetap memaksa hapus, tapi saya tolak dan saya berjalan pergi keluar.

Kemudian ada lagi satu pria yang dipapah sudah basah badannya masih mengenakan kaos biasa. Tak lama tiba-tiba di belakangnya ada belasan anggota polisi yang menyeret seorang pria yang tidak mengenakan pakaian. Dia digebuki, ditendang, hingga diinjak.

Saya spontan merekam sambil meneriaki agar mereka berhenti. Mereka pun sadar sedang direkam dan balik memelototi saya karena merekam. Salah seorang komandannya meminta saya untuk menghapus. HP saya dicoba rampas, namun saya segera memasukannya ke balik pakaian dalam.

Tas saya ditarik, tangan saya ditarik, mereka nyaris menyerang sampai akhirnya komandannya itu melindungi saya dan membawa saya ke dalam JCC. Saya diminta menghapus video dan diminta mengerti bahwa pasukan Brimob sedang mengamuk.

Saya terus dipegangi dan disuruh duduk. Ada dua polisi yang kemudian bertanya-tanya ke saya. Saya tunjukkan ID dan nama lengkap. Mereka terus memberi pengertian bahwa banyak polisi yang terluka. Saya diminta menggunakan nurani untuk tidak mempublikasikan video maupun insiden itu.

Saya sempat izin ke kamar mandi dengan alasan mau pipis. Di kamar mandi saya segera mengabarkan kantor dan mengirim video itu. Setelah itu, saya minta diizinkan pulang. Akhirnya saya dibolehkan keluar dari JCC ke arah GBK.

Pelaku

Pelaku Tidak dikenal
Polisi
Polri

Korban

Nibras Nada Nailufar (Nama Samaran)
jurnalis
Kompas.com
Media Online

Laporkan Kekerasan Terhadap Jurnalis Sebagai:

Anggota AJI Tamu

Pilih Data:

 
 

Berdasarkan Jenisnya:

Berdasarkan Pelaku:

Berdasarkan Kota: